Kamis, 19 Juli 2018

#TERBITLAHTERANGTOUR 18-07-2018 "Dari Kopi hingga Kolaborasi"

Jam 9 pagi dihari kedua di Samarinda, beberapa orang dari rombongan pergi untuk mencari kopi tradisional. Bisa dibilang ini kebiasaan kami di Pontianak. Jadi, hampir disetiap kota yang kami kunjungi pastilah selalu menyempatkan diri nyobain kopi asli daerah itu.

Berbekal dari membaca tulisan blog di internet, serta info dari teman-teman di Samarinda, muncullah sebuah nama yaitu Warung Kopi Pelabuhan Koh Abun. Rombongan menuju ke lokasi tersebut di Jln. Pelabuhan, yang kebetulan tidak jauh dari penginapan kami di Jln. Hidayatullah. Perjalanan ke lokasi hanya memakan waktu kira-kira 10 menit, tidak ada kemacetan parah selama dijalan, ya karena memang jalan disini masih terlalu lebar utk kendaraan yang belum terlalu ramai. Pencarian lokasinya jg tidak sulit, warkop ini tepat di tepi jalan besar. Setelah sampai dilokasi, kesan yang muncul setelah duduk dan memesan kopi benar-benar tidak jauh beda dengan warkop tradisional di Pontianak, hampir sama dengan suasana di warkop Sukahati.  Yang membedakan hanya pengunjungnya, disini masih terlihat bapak-bapak tua yang bermain kartu gaplek atau dengan obrolan yang tanpa perlu kami tahu. Sedangkan kalau kita masuk ke warkop di Pontianak, disitu penuh dengan anak muda sampai pula yang tua.
Kami merasa betah berlama membunuh waktu disini menunggu jadwal tampil nanti malam, sembari ngobrol dengan Aldi pemain bass dari Murphy Radio yang memang ditugaskan utk menemani kami. Banyak hal yang kami bahas dengan Aldi, berawal dari skena musik di Samarinda, sejauh apa apresiasi dari penikmatnya, sampai tarif harga studio di Samarinda. Haha.

Malamnya, kami berkenalan dan berkumpul bersama teman-teman Samarinda di gig pertama kami dalam rangkaian tur ini. Benar-benar sebuah kesenangan yang membayar tuntas 72 jam perjalanan Pontianak-Samarinda, semua bersenang-senang. Gig dibuka oleh penampilan dari KANEKI dengan membawakan 4 buah lagu. Sepertinya beberapa penonton mengarahkan fokus kepada bassist kaneki yang anggun menawan. Haha. Line up selanjutnya adalah YUKILAND. Band yang mengusung genre pop punk ini berhasil memanaskan suasana di D Corners Cafe. MURPHY RADIO diurutan selanjutnya. Band tanpa seorang vokalis atau bahasa kerennya band instrumentalis ini benar-benar memberikan tontonan yang lux bagi kami. Kedepannya mereka akan manggung di festival musik bergengsi di Jakarta, dan bahkan bulan selanjutnya mereka bakal tampil di Kanada. Dan dari cerita mereka, bulan depan Murphy Radio bakal merilis album dan merencanakan tur Kalimantan juga.

Dan akhirnya WAI REJECTED tampil sebagai pamungkas di acara itu. Total delapan lagu dari album Terbitlah Terang dibawakan dan berhasil membuat penonton untuk tak henti – henti bergoyang sambil bertepuk tangan. Kami memberikan sebuah kejutan ketika memainkan lagu Tabu dengan berkolaborasi bersama salah satu rapper asal Samarinda. Kolaborasi yang sangat berhasil dan juga perjumpaan yang sangat menyenangkan bersama seluruh teman – teman Samarinda.



Tulisan oleh : Theo & Ilham
Edit oleh : Aldiman

Selasa, 17 Juli 2018

#TERBITLAHTERANGTOUR 17-07-2018 "Samarinda dan Kreativitasnya"

Rombongan kami sampai di pelabuhan penyebrangan ferry Penajam-Balikpapan pada pukul 00.30 WITA. Menempuh kurang lebih 1 jam waktu perjalanan. Mabuk darat dipadu dengan mabuk laut. Josss haha. Setibanya, kami langsung gas menuju Samarinda sekencang-kencangnya. 1 jam berjalan tak terasa, ketika itu jam sudah diangka 02.30 WITA dan rombongan pun kalah oleh lelah. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di SPBU, ini malam ketiga kami melampar dijalan. Haha


Jam 06.00 rombongan sudah siap melanjutkan sisa perjalanan. Tanpa kendala, rombongan tiba di Samarinda sekitaran jam 08.30 waktu setempat. Kami langsung mencari penginapan paling terjangkau, sekitaran harga 100ribu/kamar pun sudah mewah, mengingat perjalanan tur masih panjang. Kami pun beristirahat sambil menunggu jadwal selanjutnya.

Jam 15.00 kunjungan radio pertama di KPFM Samarinda. Mbak-mbaknya lucu, haha. Kami menikmati sesi tanya jawab itu sampai jam 16.00. Sambil menunggu jadwal interview selanjutnya di jam 19.00. kami sempatkan singgah di alun-alun sungai Mahakam. Kurang lebih sama ky alun-alun Kapuas. Hanya beda pemandangan aja sih. Jam 19.00-20.00 interview Pro2 Samarinda dengan kondisi cukup terkantuk-kantuk. Untung mas mas penyiar jago cairin suasana. Hhe.
 

Setelah itu, kami menghabiskan sisa malam bersama teman-teman Samarinda di Jenggala Community Hub. Kami terlibat dalam diskusi non formal yg menyenangkan. Berbagi cerita, berbagi tawa dalam lelah yg belum habis benar. Sambil sedikit-sedikit membahas persiapan utk gigs besok. Jam 23.30 kami pulang ke penginapan termurah di Samarinda, haha. 
See yaa tomorrow...

*PTK Distribution dan Management Wai Rejected akan bekerjasama berbagi cerita perjalanan #TERBITLAHTERANGTOUR bersama @wairejected . Akan dipublish setiap hari di Facebook, Instagram, dan Blog @ptk_distribution

Senin, 16 Juli 2018

#TERBITLAHTERANGTOUR 16-07-2018 "Sampai di ujung Timur Pulau Kalimantan"


Terbitlah Terang! Menjadi tajuk atas tour darat melintasi Kalimantan dari band asal Pontianak, Wai Rejected. Band yang beranggotakan, Edho, Dhika, Theo, Jhon, & Doni ini baru mengeluarkan album mereka berjudul Terbitlah Terang. Berisikan 8 album, lagu-lagu di album terbitlah terang ini menjadi alasan mereka melakukan tour. 



Mulai berangkat dari hari Sabtu kemarin, sekarang rombongan Wai Rejected sudah sampai di kota Balikpapan, untuk menuju titik pertama tour mereka di Samarinda. Bagi para kawan-kawan yang berada di Samarinda, Sayang melewatkan band ini. Langsung cek info lengkap di Instagram mereka @wairejected.


*PTK Distribution bekerja sama dengan management Wai Rejected akan memposting diary perjalanan TERBITLAH TERANG TOUR 2018, akan diposting di semua kanal digital PTK Distribution. #TERBITLAHTERANGTOUR

Selasa, 05 Juni 2018

Review rilisan : Tiberias "V1.18"



TIBERIAS ! Band ini sering disalah sangka sebagai sebuah band worship, hahahaha. Tiberias turut meramaikan ajang Record Store Day Pontianak 2018 dengan merilis sebuah CD Single berjudul V1.18. CD single ini berisi dua lagu berjudul sama dengan versi yang berbeda.
Saya pertama kali menonton Tiberias di Kosong Kosong Festival 2017. Waktu itu penampilan mereka bisa dibilang kurang menarik. Tampil dengan konsep yang “jarang” di Pontianak seharusnya sudah jadi sebuah kekuatan untuk mereka menjadi daya tarik waktu itu. Tapi penampilan mereka di panggung seperti tidak saling mengenal dan ingin cepat selesai. Tampil dengan membawakan lagu – lagu cover juga menurut saya bukan pilihan yang tepat saat itu di event “sepenting” Kosong Kosong Festival.
Setahun berjalan setelah penampilan tersebut, Tiberias memperlihatkan banyak kemajuan. Salah satu yang paling penting adalah kemunculan mereka yang lumayan banyak di panggung – panggung musik Pontianak. Selain itu menurut saya, mereka juga mengelola manajemen dan social media appearence dengan baik. Dan bagi saya, puncaknya adalah di CD single ini.
V1.18 adalah CD single yang sesungguhnya juga CD Promo untuk Tiberias. Kehadiran mereka dalam format rilisan fisik seharusnya dimaksimalkan betul melalui CD Single ini. Terlebih lagi mereka juga memperhitungkan untuk memanfaatkan momen perilisan dengan mengambil momen Record Store Day.
Lagu PROOF yang dimasukkan kedalam CD Single ini sebenarnya sudah bisa kita dengar melalui video live session maupun video manggung yang sudah diupload di channel Youtube mereka. Lagunya keren! Saya bisa melepaskan mereka dari bayangan lagu – lagu cover yang mereka mainkan ketika pertama kali melihat mereka live. Kalian bisa bayangkan band – band Sub Pop yang non-grunge dengan mendengarkan lagu – lagu Tiberias. Bukan sebuah lagu yang liriknya enak dinyanyikan berulang – ulang sambil masak di dapur sih. Tapi ciri khas tersendiri yang mereka bawa ditengah – tengah riuh ramai band – band Pontianak saat ini, itu yang saya suka.
Sayang sekali, entah kenapa harus memasukkan lagu Proof remix version di CD Single ini. Rilisan fisik pertama untuk band yang belum berumur lama, seharusnya dimanfaatkan untuk memperdengarkan lagu – lagu Tiberias kepada sebanyak – banyaknya orang. Selain itu seandainya lebih banyak “Tiberias” lagi yang ditampilkan entah itu melalui liner notes, gambar – gambar, dlsb.

Review Rilisan : THE YEE "Season of You"




The Yee adalah satu dari beberapa band baru yang menakjubkan dalam jangka waktu lima tahun kebelakang di Pontianak. Lima tahun kebelakang memang ada banyak perubahan di skena musik Pontianak, mulai dari pola pengorganisiran gig sampai ke band – band baru (yang beberapa isinya wajah lama juga sih). Saya tidak tahu kapan tepatnya The Yee terbentuk, tapi penampilan mereka yang pertama kali saya tonton adalah di Record Store Day Pontianak 2016. Iya, Record Store Day 2016 yang berisi banyak kejutan dari band – band baru dan keren itu.
The Yee memainkan musik elektronik drum and bass analog, ya setidaknya itu istilah yang bisa saya ciptakan untuk menggambarkan tiga instrumen utama yang sama – sama saling memberi pengaruh dalam susunan aransemen lagu The Yee. Drum dan bass memang sebuah genre khusus dalam musik dance, tapi The Yee bukan memainkan drum dan bass seperti yang dimainkan oleh seorang DJ/producer. Petikan bass Jepank yang sebenarnya sangat sederhana tapi memberikan fondasi yang belemak untuk ketukan drum dari Ryan. Nah, poin plus nya bagi saya ada di permainan drum nya Ryan. Ryan sepertinya sangat serius dalam memilih sound drum untuk The Yee, baik dalam penampilan live maupun rekaman. Hal ini bukan hal sepele, mengingat sound yang dihasilkan dari drum set nya juga sangat berpengaruh kedalam nuansa lagu. Dan yang terakhir tentu saja band yang memainkan musik dance elektronik tidak lengkap tanpa pemain synthsizer/sampling. Dede yang sebelumnya dikenal sebagai pemain keyboard di band reggae, ternyata mampu memberikan banyak nada dan efek suara yang menarik di lagu – lagu The Yee.
Semua lirik lagu di album ini menggunakan bahasa inggris dan Deta (kalau memang benar dia yang menulis semua liriknya) melakukan tugasnya dengan baik, baik dalam menulis lirik bahasa inggris maupun menyanyikan semua lirik lagu ini. Saya ingat pernah melihat foto – foto ketika Deta pertama kali manggung dengan The Yee, dimana dia terkesan “terlalu anggun” untuk band seperti The Yee. Waktu itu saya pikir akan sulit untuk vokalis yang menunjukkan “pesona anggun” baik dalam penampilan dan cara menyayi untuk bisa menyatu dan menyanyikan musik electronic dance. Ternyata semua lagu di album ini berhasil dieksekusi dengan baik. Ternyata justru Deta bisa memberi karakter nya sendiri untuk lagu – lagu electronic dance. Lirik – lirik bahasa inggris dalam lagu The Yee bisa dipahami karena tidak terlalu banyak menggunakan metafor, tapi sangat jauh dari kesan “terlalu sederhana” apalagi “ngasal”.
Hingga tulisan ini saya buat, saya tidak mau memilih satu lagu favorit. Kalian perlu mendengarkan semua lagu di album ini. Oiyah, mungkin seandainya harus mengkritik saya kira perlu sedikit bunyi yang lebih ramai lagi nanti di karya – karya The Yee berikutnya. Bunyi yang lebih variatif baik itu dari bass, drum, maupun synthesizer. Saya berkhayal The Yee bisa menyajikan musik EDM dalam format band yang sangat analog.