Kamis, 15 Februari 2018

GIG Bulan Februari 2018 : LOUD THIS TONE


Review Film : FALLEN STARS

Sumber : www.imdb.com


Jika suatu saat kalian secara tidak direncanakan mampir di sebuah tempat penjualan DVD bajakan secara random saja, bagaimana cara kalian menentukan DVD film mana yang akan kalian beli? Buka aplikasi IMDB di hp? Kemungkinan daerah sekitar tempat jual DVD itu sinyal dari operator apapun jelek. Berusaha mengingat – ingat rekomendasi film yang tiga hari lalu baru saja didapat dari sebuah akun di Facebook? Ah, tadi aja dalam perjalanan ke tempat jual DVD kalian sudah terjebak kemacetan, hal tersebut berpotensi menghapus memori ingatan kalian untuk beberapa hari kebelakang. Memilih berdasarkan rekomendasi karyawan yang kerja di tempat jual DVD? Omong kosong, selera satu orang tak bisa sama dengan orang lainnya. Lalu? Buat saya cara paling sederhana adalah LIHAT COVER NYA! You always can judge anythig from it’s covers!



Fallen Stars, kalau dari judulya saya mungkin akan langsung teringat dengan film There Is Fault In Our Stars. Tapi hal utama yang membuat saya memutuskan untuk membeli DVD film ini adalah karena cover nya. Cover DVD nya menampilkan foto wajah dua orang tokoh utama film ini Ryan O’Nan dan Michelle Ang. Michelle Ang, kalian kenal siapa dia? Saya tidak terlalu perduli! Parasnya sungguh mencuri perhatian. Kecantikan alami wajah – wajah wanita Asia. Mata setengah sipit, hidung tak terlalu mancung, tulang rahang yang tidak tegas, pipi sedikit bervolume, bentuk bibir yang simetris, dan rambut hitam lebat alami. Kecantikan alami wanita Asia ada di parasnya Michele Ang. Dan di samping wajah Michelle Ang ada sebuah tulisan berbunyi LOST IS BETTER TOGETHER. Oke.

Fallen Stars adalah sebuah film sederhana yang latar ceritanya adalah kehidupan sehari – hari yang sangat sederhana. Cooper (Ryan O’Nan) adalah seorang bartender berusia 36 tahun yang tak punya tujuan hidup apa – apa selain rutinitas pekerjaannya disebuah Cafe yang tidak terlalu terkenal. Cerita film ini dibuka dengan adegan dimana pada suatu pagi Cooper harus berpisah “begitu saja” dengan seorang wanita yang habis menjalani one night stand bersamanya. Berpisah begitu saja dengan sebuah kalimat perpisahan dari Cooper yang sungguh hanya sekedar basa – basi “mungkin kita bisa melakukannya lagi kapan-kapan”. Padahal bahkan si wanita pun tidak bisa mengingat nama Cooper, pria yang sudah berbagi desah bersamanya tadi malam.

Lanjut ke adegan berikutnya dimana Daisy (Michelle Ang) sedang bercengkrama dengan seekor anjing yang menarik hatinya di sebuah tempat penangkaran anjing. Daisy yang tidak berani menunjukkan dan mengungkapkan perasaannya, berusaha menunjukkan dirinya yang seolah – olah tangguh, sungguh angkuh.

Bagian awal film menunjukkan semua hal yang terjadi di hidup kita sebagai sebuah rutinitas belaka, repetitif, kosong, dan hampir tanpa makna. Ada seorang pria tambun yang sudah bercerai bernama Ron. Dia setiap malam mampir dan minum di Cafe tempat Cooper bekerja. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengeluarkan lelucon – lelucon basi dan tidak lucu. Usaha yang paling bisa dia lakukan untuk menghibur dirinya, mungkin menghibur Cooper, dan jelas berusaha mengisi ruang antara mereka berdua dengan percakapan yang tak menyentuh keduanya sama sekali. Lalu Gwen partner kerja Cooper di Cafe tersebut, yang menghabiskan jam kerja nya setiap malam dengan memberi senyum palsu dan berusaha memastikan bahwa setiap pengunjung cafe merasa nyaman. Juga Joyce seorang wanita setengah tua yang merasa depresi dengan hidupnya yang selalu diisi kerja dan kerja, beberapa kali dia berusaha membujuk Cooper untuk mau memenuhi hasrat seksualnya yang sudah di puncak dahaga.



Film ini adalah cermin bagi kita semua para manusia rutinitas. Pergi pagi pulang sore, pergi pagi pulang malam. Senin hingga Sabtu dengan hari Minggu yang konsumtif. Semua hal – hal sederhana dari hidup kita yang sepertinya biasa – biasa saja. Kita semua yang sering bertanya “untuk apa semua yang aku lakukan di hidup ini?”, “apa tujuan hidupku?”. Itulah Cooper yang malang. Menghabiskan 10 tahun hidupnya dalam rutinitas sebagai bartender di cafe dengan berlalu begitu saja. Hari – hari hidupnya yang berlalu begitu saja, hanya kerja, rumah, dan kerja lagi. Cooper yang jenuh dengan hidupnya. Tapi alih – alih untuk berani mengambil langkah perubahan, bahkan dia pun tidak mengerti harus bagaimana dan melakuka apa untuk hidupnya. Lalu Daisy yang sombong. Manusia kesepian dan rapuh tapi sok kuat. Dia adalah seorang penulis terkenal, tapi kesepian. Hidupnya sungguh sangat “baik – baik saja”. Hal tersebut justru menjadikan dirinya super insecure. Penuh rasa curiga dan tertutup dengan hal lain diluar dirinya.

Cooper dan Daisy akhirnya dipertemukan di oleh “momen kebetulan” di Cafe tempat Cooper bekerja. Entah disengaja atau tidak Daisy kerap kembali datang ke Cafe tersebut untuk sekedar baca buku dan memesan segelas Camparii with soda. Cooper yang merasa nyaman berada didekat Daisy, tapi tidak berani menunjukkan hal tersebut secara detail dan jelas, apalagi mengatakannya. Daisy yang juga senang menghabiskan waktunya bersama Cooper, tapi karena sifat insecure-nya Daisy berusaha terus mengkokohkan tembok antara dia dan Cooper, sebagai sarana agar orang tak perlu mengetahui apapun dari dirinya dan hidupnya yang menurutnya “tidak ada apa-apanya” itu. Kata – kata andalan Daisy hanyalah it’s okay, nothing, not really. Seolah – olah tidak ada apapun yang menarik di dunia ini.

Cerita terus menuju klimaks. Cooper yang terus merasa bosann dengan rutinitas hidupnya dan juga terus bingung dengan bentuk relasi yang sedang dijalaninya dengan Daisy. Daisy juga terus membuat segalanya semakin rumit, padahal hal sederhana yang sungguh dibutuhkan hidupnya sebenarnya hanyalah “memiliki teman”.

Lost is better together. Sebuah ungkapan singkat penuh makna yang menjadi pesan besar yang berusaha disampaikan film ini. Hidup penuh kebosanan adalah hal yang paling memungkinkan kita hadapi di dunia yang semakin rumit ini. Kita adalah bagian dari 99% manusia di bumi ini yang tidak bisa berbuat banyak selain berkompromi masuk dalam jerat rutinitas sekolah, kuliah, kerja. Bahkan ber-wirausaha sekalipun, sebuah kegiatan yang sering secara berlebihan digembar – gemborkan sebagai sesuatu yang jauh lebih baik dibandingkan masuk dalam jebakan “majikan-bawahan”, juga memiliki potensi besar untuk jadi sebuah rutinitas kosong dan membosankan. Fallen Stars mau berkata bahwa kita butuh orang lain dalam hidup kita. Itulah kenapa di dunia ini tidak diisi oleh kita sendiri saja. Ada manusia lainnya di dunia ini, ada juga hewan – hewan yang turut melengkapi dunia ini dengan segala tingkah polah dan fungsi uniknya, ada tanaman, ada sinar matahari, ada kendaraan yang berlalu – lalang, dan lain sebagainya. Kita tidak semestinya bingung seperti Cooper ataupun insecure seperti Daisy. Kita semua saling membutuhkan satu sama lain sebagai penghuni semesta ini. Membuka diri, mau jujur, sadari kelemahan diri, buka wawasan, buka pandangan, kita tidak sendirian.

Karena ini adalah film Amerika, maka tidak perlu lagi saya jelaskan bagaimana ujung cerita film ini. Karena keseluruha film juga tidak bisa digambarkan hanya dengan sebuah ending. Direkomendasikan untuk kalian yang punya waktu senggang dan kondisi yang sedang fit tidak kecapekan untuk menonton film. Santai saja, siapkan waktu, kopi, dan cemilan. Tidak perlu ber-ekspektasi banyak dengan sebuah film ini. Tekan tombol play dan biarkan 1:25:00 dalam hidupmu berlalu.

Review Rilisan : ENSENA x RADIANT ARCHERY

Sumber foto : https://ensenacvlt.bandcamp.com/releases


Saya sudah jatuh cinta dengan ENSENA semenjak pendengaran pertama. Sebuah band yang berasal dari dataran tinggi Cipanas dan memainkan musik dengan gaya post-metal, atmospheric, dan sedikit beat ala dis-dis juga ada. Seolah – olah nuansa gunung dan dingin dari Cipanas sudah diwakilkan melalui suara gitar atmospheric dan ketukan drum yang berulang – ulang di lagu – lagu mereka.
Pada rilisan kali ini ENSENA melaukan split dengan RADIANT ARCHERY sebuah band asal Singapore yang memainkan musik yang tidak jauh berbeda dengan ENSENA. Dan split dalam bentuk kaset pita ini dirilis dengan metode kerja bareng antara D’Kolektif dan HSTD, kedua record label ini berasal dari Bandung.
Masing – masing band memperdengarkan satu buah lagu dalam split ini. Sisi yang pertama kali saya dengar adalah sisi nya ENSENA. Dengan sebuah lagu berjudul NOCTURNAL, ENSENA masih bertahan dengan warna musik seperti yang telah mereka hadirkan di EP pertama mereka. Ketukan drum black metal, beralih ke nuansa atmospheric yang dipimpin oleh riff – riff gitar yang membawa kita melayang. Warna musik yang masih sama, tapi belum membosankan untuk saya pribadi. Mungkin karena masih terasa segar saja, kebetulan warna musik seperti ini pun tidak banyak di Indonesia. Di sisi lainnya RADIANT ARCHERY memberi sedikit perbedaan dengan sebuah lagu instrumental. Dengan sebuah lagu berjudul THE GLOOM, RADIANT ARCHERY lebih bermain – main dengan “pembangunan mood” dalam aransemen musik di lagunya. Keseluruhan tempo lagu lebih lambat dibanding lagunya ENSENA, tapi cukup berhasil membawa kesan “gloomy” sesuai dengan judul lagunya.
Split kaset ini mungkin tidak menghasilkan kehebohan yang sama ketika saya pertama kali mendengar ep The Judgement milik ENSENA. Tapi split kaset ini masih layak dimiliki sebagai salah satu arsip penting musik – musik post metal/atmospheric metal/melodic crust lokal.

Sumber foto : https://ensenacvlt.bandcamp.com/releases

Beli albumya di Twitter milik ENSENA : https://twitter.com/ensenacult

Review Zine : PUNDAK LUTUT KAKI LUTUT KAKI Cawu 3



 Sumber foto : https://plklkzine.tumblr.com/

Zine kolektif dengan sentuhan – sentuhan kreatifitas, personal, dan imajinasi yang mantap. Zine ini merupakan kerja bareng dari tiga tokoh yang “bukan nama sebenarnya” yaitu Kim Sow Tong, Mas Bagong, dan Nona Nina. Zine Pundak Lutut Kaki Lutut Kaki (PLKLK) kali ini adalah edisi Cawu 3, edisi mau naik kelas. Kenaikan itu langsung dengan jelas diperlihatkan dari cover nya yang berwarna dan dicetak dengan printer laser profesional dan harga jualnya yang mendadak naik lima kali lipat. Harga tersebut adalah harga yang sungguh layak dibayar untuk mendapatkan zine PLKLK yang sungguh sudah naik kelas sampai ke dalam isinya ini. Mari kita bahas!

Kehadiran seorang yang baru kedalam duet Kim Sow Tong dan Mas Bagong sungguh memberi dampak yang luar biasa. Zine ini akhirnya bisa membuktikan kualitas “ke-indie-an” mereka jauh dari sekedar pamer playlist lagu – lagu band indie saja. Dia adalah Nona Nina, seorang gadis indie perantau di tengah kerasnya kota Jakarta. Nona Nina menyumbangkan dua buah interview dengan pertanyaan – pertanyaan nan unik dan nyentrik ciri khas anak – anak indie ibukota bersama Jason Ranti dan Indische Party (bahkan dari namanya saja kalian sudah langsung bisa tahu kalau mereka indie). Saya salut buat dikau Nona Nina, bisa – bisanya keberanianmu sungguh tinggi membahana dalam mencuri waktu mereka itu para tokoh indie untuk sekedar duduk dan ngobrol hal random dengan dirimu. Dan terakhir juga sebuah review dari pesta hura – hura bahagia dari ulang tahun ke enam band Indische Party. Yakk, umur enam tahun!!  Whatever!

Lalu bagaimana sumbangsih nya Mas Bagong dan Kim Sow Tong? Saya mengakui, mereka berdua kali ini cukup lihai mengimbangi Nona Nina yang cerdik cendekia dalam ber-jurnalisme. Rubrik andalan interview with someone i met dari Kim Sow Tong kali ini adalah obrolan santai pada suatu pagi bersama Razio Van Basten a.k.a Acun. Beliau adalah seorang tionghoa yang mungkin pada kehidupan sebelumnya adalah warga negara Belanda. Beliau adalah komisaris utama dari sebuah unit usaha bernama NASI KUNING ASO. Bingung? Semua pertanyaan kalian akan terjawab ketika membaca interview ini. Dan Kim Sow Tong juga menunjukkan jati dirinya sebagai WNI yang baik dengan turut serta menegakkan demokrasi di negara ini dengan mengirimkan surat kepada Bapak Jokowi (ada yang masih gak tahu beliau itu siapa? Kamu sungguh seorang ANARKIS sejati!). Kim Sow Tong melalui surat ini menunjukkan bahwa beliau masih sangat mengandalkan pemerintah untuk hidupnya, masih memberikan mimpi hidupnya kepada pemeritah, dan jelas Kiim Sow Tong bukan seorang anarkis.

Lalu apa kontribusi Mas Bagong di zine PLKLK Cawu 3 ini? Ah saya sudah lupa! Sekian.

PLKLK Zine punya tumblr : https://plklkzine.tumblr.com/

Sabtu, 23 September 2017

MEMBUKA ERA "Sintang Kompilasi 2017"



Lima tahun lalu berkenalan dengan sebuah band grindcore dari Sintang bernama Shangkuan Lingfeng dari sebuah netlabel asal Yogyakarta. Saat itu (dan bahkan hingga kini) band grindcore sangat jarang di Kalimantan Barat. Shangkuan Lingfeng adalah bagian dari yang sedikit itu dan saat itu mereka cukup produktif dengan berbagai proyek rilisan. Sesuatu yang sangat keren karena mengingat kondisi di Sintang saat itu tidak ada studio rekaman dan bahkan masih terdapat studio yang menolak band underground untuk latihan di tempat mereka. Alhasil materi direkam dengan banttuan HandPhone yang saat itu bukan Android. "Handphone harus diletakkan di posisi yang sama dan di studio yang sama" begitu kurang lebih informasi dari Iyan sang vokalis mengenai metode rekaman materi - materi mereka.

Pada masa itu scene Sintang (dan pada umumnya scene di seluruh Kalimantan Barat) sedang menjalani masa klimaks. Gigs hampir setiap minggu dan tersebar bahkan hingga desa - desa di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat. Gerombolan street punk, street hardcore, dan street metalhead yang beranggotakan anak - anak remaja berstatus pelajar SMP dan SMA selalu setia melakukan segala cara untuk bisa berpindah - pindah dari satu kota ke kota lainnya demi hadir di gigs underground tempat mereka "habis-habisan" meluapkan emosinya. Tahun demi tahun berlalu dan situasi tidak sama lagi. Semenjak tahun 2016 oleh karena "oknum" yang sering latihan kungfu di gigs dan beberapa faktor lainnya, pegelaran gigs musik underground di Kalimantan memasuki masa - masa lebih banyak diam untuk merenung. Situasi yang juga terjadi di scene kota Sintang. Sulitnya perizinan untuk mengadakan gigs, situasi moshpit di gigs yang hampir selalu berakhir berkelahi, dan juga sosok - sosok yang perlahan - lahan menghilang dari kolektif, semuanya bercampur dan menambah rumit situasi scene. Selama satu tahun belakangan ini hampir tidak terdengar lagi gebrakan ataupun informasi kegiatan terbaru dari band maupun scene Sintang.

Di tahun 2017 ini seorang teman bercerita kalau dia sedang memiliki proyek untuk membuat sebuah album kompilasi band - band Sintang. Sebuah kabar yang sangat baik dan saya pun selaku label PTK Distribution akhirnya mengajukan diri untuk turut ambil bagian dalam proses produksi cd album kompilasi tersebut. Sebuah usaha pendokumentasian sejarah !! 

Album kompilasi ini merangkum band - band Sintang yang baru dan yang lama, yang semuanya memiliki karya yang cukup khas. Namun tidak semua band yang ada di album kompilasi ini adalah band yang masih berstatus aktif. Tapi setidaknya ada bara yang masih terasa panasnya dari deretan lagu - lagu di album kompilasi ini.