Sabtu, 13 Oktober 2018

DÈTENTION merilis single Cult Of Delusionaries

Dua tahun berlalu sejak DÈTENTION merilis album pertamanya ‘Youth Detention Program for Reckless Teenagers’ (2016, Rimauman Music/Necros Records/Resting Hell). Kini mendekati penghujung tahun 2018 DÈTENTION kembali dengan amunisi baru yaitu lagu berjudul “Cult of Delusionaries”. Lagu baru dari band yang menerapkan etos DIY dalam geraknya sebagai band itu menyoroti fenomena gerakan keagamaan sektarian fanatik yang menjadi salah satu dinamika dan problematika politik dunia kontemporer yang kerap berujung dengan konflik yang tak lagi mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.
Lagu itu sendiri adalah bagian dari album kedua DÈTENTION. yang berjudul ‘Lullabies for A Broken World’ yang akan segera dirilis pada bulan Oktober/November 2018 oleh Rimauman Music, Necros Records dan Resting Hell.

Kamis, 04 Oktober 2018

Suare dari Kampung Beting, Manjakani Live Session di Tanjung Besiku

Sumber foto : SiasatPartikelir

Tanjung Besiku adalah sebuah tempat di ujung Kampung Beting, Pontianak. Tempat tersebut merupakan pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak di Kota Pontianak. Dulu sekali saya hanya bisa berkhayal untuk bisa duduk di Tanjung Besiku dan menyaksikan suasana matahari terbenam yang jatuh tepat dibelakang bangunan Kapuas Indah. Saya adalah salah satu orang yang terpengaruh stigma dan omongan miring dari orang - orang mengenai suasana didalam Kampung Beting. Orang luar dan tidak punya "keperluan khusus" seperti saya ini tentu tidak masuk kesana. Beruntung sekarang sudah ada waterfront/jalan setapak sepanjang tepian Sungai Kapuas di Kampung Beting. Tidak hanya saya sendiri, bahkan saya sudah jalan - jalan dengan Ibu kesana. Tapi tentu kami hanya jalan - jalan dan foto - foto di tepi kampung saja.

Beberapa hari lalu dua sejoli dari MANJAKANI sudah bermain gitar dan berdendang bersama anak - anak dan warga Kampung Beting di Tanjung Besiku. Sangat berharap kedepannya seni musik bisa menjadi salah satu komponen untuk penggerak perubahan di Kampung Beting, selain tentunya mengutamakan hal yang jauh lebih penting yaitu Ekonomi dan Pendidikan.

Jumat, 07 September 2018

OUT NOW : FVRQAN - ANTIPATI (EP-PTK1805)


Sebagai sebuah label produksi rilisan musik, kegiatan mencari – cari band yang menarik untuk dirilis adalah sebuah kegiatan yang biasa dilakukan. Seringkali yang tidak biasa adalah proses menemukan band yang menarik tersebut. Seringkali yang terjadi adalah menemukan mereka ketika sedang berselancar di dunia maya. Tapi prosesnya berbeda ketika bertemu dengan FVRQAN.
Kami bertemu di meja warung kopi tanpa saling membuat janji. Saya berjanji bertemu dengan seorang teman, teman tersebut berjanji juga untuk bertemu teman lainnya, dan teman lainnya datang menyusul kami bersama seorang lainnya yang belum saya kenal sebelumnya. Dia adalah seorang mahasiswa perantau yang masih muda, tertarik dengan filosofi, memiliki amarah pada dunia, dan satu hal terakhir yang membuat saya langsung antusias adalah dia seorang rapper yang memiliki karya. “Mane aku mau dengarlah lagu kau!”, begitu saya berkata dengan penuh antusias.
FVRQAN (nama yang dikhususkan untuk proyek musiknya) memiliki gaya rappin yang tidak sering saya temui di skena lokal. Entah apa istilahnya, gaya rap dengan merapalkan kata – kata dengan sangat rapat dan bahkan lebih mirip dengan seorang emak – emak yang ngomelin anaknya. Mungkin kalian sudah bisa membayangkannya ya? Ciri lainnya adalah beat yang bernuansa gelap dan juga lirik (ditambah puisi) yang bermuatan sosial politik. Seketika saya dibakar semangat dan diterbangkan kepada ingatan beberapa tahun silam ketika bertemu dengan sebuah proyek solo rapper lain dari Pontianak, yaitu Balada Sungai Kapuas.
FVRQAN adalah Furqan,seorang putra Kalimantan Barat yang merantau untuk kuliah di Yogyakarta. Pengalaman berhadapan dengan kenyataan yang terjadi di tanah Kalimantan kampung halamannya mungkin bertemu dengan gelora api aktivisme mahasiswa di kota pelajar, sehingga menghasilkan karya – karya seperti yang ada di album ANTIPATI ini.


Dalam album ANTIPATI ini FVRQAN berkolaborasi dengan seniman – seniman Kalimantan lainnya yang dijumpainya di Yogyakarta. Ada Yasir Dayak, Ivo Trias J, dan WAYnd yang menyumbangkan kreativitas hampir di seluruh lagu di album ini. Kehadiran seniman tamu tersebut tidak hanya menghasilkan sebuah gerombolan yang disatukan oleh identitas “anak Kalimantan” belaka, tapi turut menambah nuansa satir dan amarah yang hadir melalui lagu – lagu seperti Borneo Punah, Antipati, dan Manuskrip Belantara.
Mungkin kita bisa meletakkan kritik pada aspek – aspek teknis di bidang musik ketika mendengarkan karya ini. Silahkan saja, justru hal seperti itulah yang diperlukan. Tapi jangan lupa untuk meneliti juga lirik – liriknya dan kemudian meluangkan waktu untuk mencari tahu mengenai Kalimantan dan bagaimana pulau ketiga terbesar di dunia ini terus rapuh menghadapi ancaman penghancuran.

FVRQAN :
You Tube = Furqan
Instagram = @fvrqan_


Pontianak, 7 September 2018
Oleh : Aldiman Sinaga-PTK Distribution

Sabtu, 01 September 2018

OUT NOW! Pesawat Tempur - Terbang

Pesawat Tempur adalah sebuah band dengan sound 90an asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Band ini baru saja merilis single pertama mereka dengan judul “Terbang”. Lagu Terbang ini adalah jalan alternatif atas kebuntuan dan stagnansi mereka pada band yang sebelumnya. 
Pesawat Tempur terbentuk di akhir tahun 2017, yang personelnya merupakan gabungan dari berbagai band dengan genre yang berbeda-beda. Di awal kemucunculan mereka di panggung Record Store Day Banjarmasin 2018 lalu, Pesawat Tempur dapat respon positif penikmat musik karena menyajikan lagu rock yang sederhana dan mudah nancep di kuping.

Pesawat Tempur adalah Eben (Vokal/Gitar), Agus (Bass), dan Adam Drum)

Silahkan berkomunikasi dengan Pesawat Tempur melalui :


Dengarkan single Terbang dibawah ini :




Jumat, 31 Agustus 2018

#TERBITLAHTERANGTOUR 10&11-08-2018 "Semua ini adalah sejarah untuk kami Wai Rejected"

10 Agustus 2018
H-7 Hari Raya Kemerdekaan Indonesia, semoga setelah ulang tahunnya Negara kita g gini-gini aja. Amin


Tinggal satu kegiatan kami hari ini, berkunjung ke Kece Café untuk meminta izin kepada pemiliknya agar gig tour kami bisa diadakan di sana. Pemiliknya adalah Bang Berry, namun saat jam 10 pagi kami kesana beliau masih ada kerjaan di dalam hutan. Sekedar info Bang Berry adalah seorang aparat kepolisian dan yang kami dengar beliau sedang mengejar buron yang kabur ke hutan. Sayangnya kami tak sempat menanyakan kasusnya, yang pasti bukan tindak pidana korupsi. Lagipula di dalam penjara pun para terpidana korupsi tetap hidup nyaman seperti di luar penjara. Ngapain mereka harus kabur ke hutan? Hahahaha

“Korupsi adalah kejahatan luar biasa, tindak keji merampok hak-hak warga Negara. Menghina akal sehat jika penjara malah amat mewah”, kutipan dari Pura-Pura Penjara oleh Najwa Shihab.

Di sana, kami bertemu dengan Eki bassist band V-five, dia yang menjadi orang kepercayaan bang Berry untuk mengurus Kece Café. Obrolan tidak berlangsung lama karena memang sebelumnya Pieter telah menghubungi bang Berry via telpon. Dan akhirnya deal acara akan diadakan di Kece Café besok malam.

Setelah itu, kami semua ngopi di tempat kemarin. Di sana juga ada teman-teman KOMISI juga ada Faisal She’s Bro dan Bang Arif.

Sore hari menjelang malam kami habiskan di alun-alun kota. Alun – alun tersebut menghadap ke sebuah sungai yang tengah surut. Suasana diterpa hembusan angin yang menyenangkan dan berada di tempat asing di tengah teman baru, semua yang terjadi selama tur ini akan sulit diulang kemudian hari, semua ini adalah sejarah untuk kami pribadi dan kami sebagai Wai Rejected.

“Hidup adalah keindahan sesaat di dunia yang sesat”
  



11 Agustus 2018
Sebagai seorang anak band atau musisi, tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada berdiri di atas panggung dan memainkan karya sendiri. Dan hari ini kami akan memperkenalkan semua lagu di album Terbitlah Terang kepada para penikmat musik di kota Sintang. Semoga apa yang direncanakan berjalan lancer, agar terbayar lunas semua kerja keras kami demi gig di sini.

Tepat jam 11 siang kami tiba di Kece Café dan disambut dengan kondisi listrik padam. Kami mulai memasang set keperluan panggung hingga jam 2 siang, dan sementara listrik belum juga menyala. Ketika kami sedang bosan-bosannya menunggu listrik nyala, datanglah bang Berry sang pemilik cafe. Kami semua berkenalan dan bercerita panjang lebar dengannya. Di balik wajahnya yang berkarakter keras bahkan bisa dibilang sangar, bang Berry adalah sosok yang sangat menyenangkan ketika berbicara dan sangat baik perlakuannya kepada kami. Kami pun tak segan untuk bercanda sembari membuang penat bersama Bang Berry.

Sekitar jam 5 listrik baru menyala. Kami pun berlomba dengan waktu yang sudah tak panjang lagi, agar secepatnya dapat menyelesaikan check sound. Check sound adalah sebuah ritual yang wajib dilakukan karena hal ini adalah salah satu faktor penting demi tercapainya klimaks ketika tampil. Maka dari itu kami masih heran bahwa banyak diantara teman-teman band lain yang menganggap hal tersebut tidaklah penting.

Sekelas band nasional saja masih tetap melakukan check sound waktu tampil di Pontianak, dan oleh karena itu kami yang hanya band “lokal” kerap kali menjadi korban oleh perlakuan diskriminatif dari pihak vendor soundsystem ketika check sound, hahaha. Menurut kami, acara akan berjalan dengan baik ketika terwujud kerjasama yang baik antar semua pihak, salah satunya pihak talent dan pihak vendor soundsystem.

Kami datang kembali ke venue pada jam 8 malam ketika acara baru saja dimulai. Penampil pertama adalah The Moon, kesan pertama ketika melihat mereka membuat kami teringat pada band dengan lagu-lagunya yang sangat digandrungi kaum hawa di Pontianak, Coffternoon. Ya kedua band tersebut berkonsep hampir sama, hanya saja The Moon tanpa pemain biola. Setelahnya menyusul penampilan band Tiberias, band asal Pontianak ini memang sengaja ikut bersama kami berkeliling tur di sekitar Kalimantan Barat. Band terakhir sebelum kami tampil adalah V-five. Band asal Sintang yang berhasil membuat semua penonton ikut bernyanyi.

Giliran kami Wai Rejected. Membawakan delapan lagu di album Terbitlah Terang dan lagu Take Me Now yang merupakan permintaan langsung dari pemilik tempat. Dan semua penonton pun berhasil kami buat geram dengan penampilan kami. Kami tampil habis-habisan seolah besok akan kiamat. Tepuk tangan dan teriakan muncul di setiap jeda lagu. Kami berhasil membayar lunas semua jerih payah dan kerja keras di sini. Seolah mengalami orgasme, kami dan semua yang hadir sudah kehabisan energi untuk pulang ke peraduan masing-masing. Sambil memulihkan tenaga, kami bersalaman dengan semua teman yang telah membantu terwujudnya gig ini. Dan terakhir sekali kami semua berfoto tepat di depan pintu masuk Kece Café.




Ditulis oleh : Theo
Diedit oleh : Aldiman Sinaga
Foto oleh : WR Management