Sabtu, 23 September 2017

MEMBUKA ERA "Sintang Kompilasi 2017"



Lima tahun lalu berkenalan dengan sebuah band grindcore dari Sintang bernama Shangkuan Lingfeng dari sebuah netlabel asal Yogyakarta. Saat itu (dan bahkan hingga kini) band grindcore sangat jarang di Kalimantan Barat. Shangkuan Lingfeng adalah bagian dari yang sedikit itu dan saat itu mereka cukup produktif dengan berbagai proyek rilisan. Sesuatu yang sangat keren karena mengingat kondisi di Sintang saat itu tidak ada studio rekaman dan bahkan masih terdapat studio yang menolak band underground untuk latihan di tempat mereka. Alhasil materi direkam dengan banttuan HandPhone yang saat itu bukan Android. "Handphone harus diletakkan di posisi yang sama dan di studio yang sama" begitu kurang lebih informasi dari Iyan sang vokalis mengenai metode rekaman materi - materi mereka.

Pada masa itu scene Sintang (dan pada umumnya scene di seluruh Kalimantan Barat) sedang menjalani masa klimaks. Gigs hampir setiap minggu dan tersebar bahkan hingga desa - desa di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat. Gerombolan street punk, street hardcore, dan street metalhead yang beranggotakan anak - anak remaja berstatus pelajar SMP dan SMA selalu setia melakukan segala cara untuk bisa berpindah - pindah dari satu kota ke kota lainnya demi hadir di gigs underground tempat mereka "habis-habisan" meluapkan emosinya. Tahun demi tahun berlalu dan situasi tidak sama lagi. Semenjak tahun 2016 oleh karena "oknum" yang sering latihan kungfu di gigs dan beberapa faktor lainnya, pegelaran gigs musik underground di Kalimantan memasuki masa - masa lebih banyak diam untuk merenung. Situasi yang juga terjadi di scene kota Sintang. Sulitnya perizinan untuk mengadakan gigs, situasi moshpit di gigs yang hampir selalu berakhir berkelahi, dan juga sosok - sosok yang perlahan - lahan menghilang dari kolektif, semuanya bercampur dan menambah rumit situasi scene. Selama satu tahun belakangan ini hampir tidak terdengar lagi gebrakan ataupun informasi kegiatan terbaru dari band maupun scene Sintang.

Di tahun 2017 ini seorang teman bercerita kalau dia sedang memiliki proyek untuk membuat sebuah album kompilasi band - band Sintang. Sebuah kabar yang sangat baik dan saya pun selaku label PTK Distribution akhirnya mengajukan diri untuk turut ambil bagian dalam proses produksi cd album kompilasi tersebut. Sebuah usaha pendokumentasian sejarah !! 

Album kompilasi ini merangkum band - band Sintang yang baru dan yang lama, yang semuanya memiliki karya yang cukup khas. Namun tidak semua band yang ada di album kompilasi ini adalah band yang masih berstatus aktif. Tapi setidaknya ada bara yang masih terasa panasnya dari deretan lagu - lagu di album kompilasi ini.


Sabtu, 02 September 2017

ZINETUSIAS Singkawang 2017

Ada banyak kejutan ketika kita tidak meletakkan harapan apapun terhadap sesuatu.

Long weekend adalah incaran orang-orang yang hidup dalam rutinitas. Ada yang menyiapkan rencana secara khusus untuk menjalaninya, ada pula yang secara spontan mencetuskan ide tanpa rencana tersusun. Kedua hal tersebut saya lakukan sebelum menghadapi long weekend minggu ini. Menyusun sebuah rencana yang cukup spontan.

Zinetusias adalah sebuah kegiatan yang saya dan teman-teman gagas, khususnya teman-teman Singkawang. Dimulai dari beberapa obrolan santai dan pertanyaan sederhana mengenai Zine. Secara tiba-tiba saya menawarkan untuk melaksanakan kegiatan ini kepada teman-teman Singkawang. Selain itu liburan akhir pekan adalah tujuan berikutnya. Obrolan sederhana saya mulai bersama Adit(PUNDAK LUTUT KAKI LUTUT KAKI Zine-PLKLK Zine), sekedar brain storming berbagai hal mengenai konten acara. Sepengalaman saya dalam membuat sebuah acara tentang zine, se-detail apapun rencana yang kita buat, selalu bersiap-siap untuk sebuah kejutan pada saat pelaksanaannya. Koordinasi bersama teman-teman Singkawang pun segera dilakukan segera sesudah rencana konten acara selesai kami susun. Teman-teman Singkawang menyiapkan tempat, publikasi, dan beberapa persiapan lainnya. Hal terpenting dari kegiatan ini adalah, segala hal yang berkaitan dengan zine harus dibicarakan dengan konteks yang dekat dengan teman-teman Singkawang.

Saya dan teman-teman berangkat satu hari sebelum hari pelaksanaan. Seperti biasa jika memang punya waktu yang cukup, perjalanan ke Singkawanga harus memperhatikan kecukupan waktu untuk menikmati liburan. Momen sunset di tepian laut Sungai Duri dan juga segarnya aliran air sungai di Eria sudah cukup mewakilinya.

Persiapan acara kami lakukan juga cukup spontan hanya beberapa menit sebelum waktu yang telah ditentukan untuk memulai pelaksanaan acara. Merespon berbagai properti kotak kayu yang tersedia di lantai dua Kedai Sesama(tempat pelaksanaan acara) ditambah dengan beberapa hiasan sederhana. Kira-kira 30 menit setelah semua selesai kami susun, para pengunjung mulai berdatangan. Satu hal yang cukup membuat terkejut adalah, pengunjungnya lumayan banyak dan beragam. Semua yang datang langsung menunjukkan ketertarikannya, melihat-lihat lalu memilih zine yang ingin dibaca. Semua langsung larut kedalam petualangan visual bersama zine yang dilihat, sesekali diselingi dengan obrolan santai mengenai hal tersebut. Ruangan tempat acara diadakan cukup panas, tapi hingga satu jam lebih berlalu, semua masih betah duduk dan menikmati zine masing-masing. Sesuai dengan apa yang dijanjikan di flyer acara, memang akan diadakan sesi ngobrol-ngobrol santai. Akhirnya kira-kira jam 3 sore, sesi ngobrol pun dimulai. Demi kenyamanan suasana ngobrol, kami semua pindah kebawah, ke teras depan Kedai Sesama. Suasananya cukup nyaman, sore menghantar senja, dengan mentari berwarna jingga muda.

Obrolan dibuka oleh Pedok Yubie sang moderator. Saya melanjutkan bercerita mengenai latar belakang kegiatan ini, lalu sedikit pendapat pribadi mengenai zine dan juga konteks pembicaraan sore itu. Setelah itu obrolan mulai hangat ketika Bang Bujang buka suara. Bang Bujang juga membuat sebuah zine bernama REVOLVER. Ada banyak poin-poin menarik yang dipaparkan Bang Bujang berkaitan dengan zine maupun kegiatan tulis-menulis dan penerbitan mandiri. Salah satu yang menurut saya menarik adalah menentukan goalsetting yang jelas. Perencanaan mengenai zine seperti apa, bagaimana mengelolanya, bagaimana melaksanakannya, dan bahkan mau sampai berapa edisi kita buat. Kebebasan dalam membuat zine sebaik-baiknya adalah kebebasan yang memiliki tanggung jawab. Tidak hanya tanggung jawab terhadap isi, tapi kita juga punya tanggung jawab kepada pihak yang membaca zine kita. Walaupun tidak ada keharusan bagi sebuah zine untuk rutin terbit, tapi kehadiran zine kita tidak menutup kemungkinan berdampak positif bagi pembaca dan menjadi sesuatu yang akan terus ditunggu. Maka kita juga harus cukup serius dalam mengurusi isi dari zine yang kita buat. Menurutnya, hal yang seringkali luput adalah melakukan kutipan yang bertanggung jawab. Bang Bujang juga banyak sekali memberi contoh-contoh tema yang menarik untuk dijadikan konten sebuah zine, tema yang menarik dan memiliki dampak sosial yang baik bagi yang membaca.

Pengunjung lain juga turut memberi suara. Salah satunya adalah Kak Asta, seorang mahasiswa FKIP Singkawang yang mengusahakan banyak kegiatan yang memacu minat baca-tulis pelajar dan mahasiswa. Salah satu karyanya adalah buletin kumpulan tulisan pelajar SMA yang dicetak pada tahun 2011. Usaha menggerakkan semangat menulis ini pun mengalami hambatan karena minat dan semangat pelajar seringkali terbentur dengan ketidakmampuan menyeimbangkan dengan kesibukan dan kegiatan lain, hal yang sama juga terjadi di kampusnya. 

Obrolan masih terus bergulir. Adit dari PLKLK zine juga bercerita mengenai zine yang dibuat bersama temannya. Dimulai dari tujuan sederhana untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang produktif. Awalnya koten dari zine yang dibuatnya sangat random. Belum memiliki konsep dan ciri-ciri yang khas. Akan tetapi hal tersebut bukanlah sebuah hambatan. Dalam perjalanan terbit beberapa edisi berikutnya, Adit bersama teman-temannya mulai mendapatkan konsep yang baik untuk zine nya. Mendapatkan konsep ini salah satunya adalah dengan berusaha mempertahankan beberapa rubrik yang harus menjadi rubrik tetap.

Bang Bujang kembali menambahkan variasi ide yang bisa dilakukan berkaitan dengan membuat zine. Tidak hanya sekedar variasi isi, tapi juga bisa berusaha kreatif untuk membuat variasi medium cetak zine. Zine tidak harus dicetak diatas kertas. Sangat-sangat mungkin untuk membuat zine yang dicetak di medium seperti kulit kayu, kaca, plastik, ubin, dll. Setidaknya variasi medium cetak ini sudah dilakukan Bang Bujang melalui zine nya yang dicetak diatas kertas pembungkus nasi.

Membuat zine memang pada dasarnya adalah sesuatu yang suka-suka. Tidak dimulai dengan tujuan yang terlalu heroik. Karena pada perkembangannya, tujuan suka-suka inilah yang menjadi penjaga semangat dalam melakukan sesuatu. Akan tetapi tidak semestinya semangat bebas dan suka-suka itu justru menjadi sesuatu yang memapankan kreasi ide dan cara berpikir. Alangkah lebih baik untuk memikirkan usaha yang dapat membuat produksi zine berkesinambungan. Bantuan dan kerjasama baik dalam hal ide maupun finansial tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan.

















Minggu, 16 Juli 2017

Rainforest World Music Festival 2017 : SVARA SAMSARA dan suara musik tradisional Indonesia

Suasana hari pertama Rainforest World Music Festival 2017 (RWMF 2017) sudah menjanjikan kemeriahan yang luar biasa untukk hari - hari berikutnya. Terdapat setidaknya sepuluh penampil di tiga panggung berbeda (Rainforest Theatre Stage, Rainforest Jungle Stage, Rainforest Tree Stage).




Kami mengamati situasi di Rainforest Tree Stage dan terpukau dengan satu - satunya penampil yang berasal dari Indonesia, SVARA SAMSARA. Grup ini berasal dari Depok, Jawa Barat dan jangan pernah membayangkan bahwa grup ini akan menampilkan musik khas Sunda ataupun pertunjukan wayang golek.  Mereka memainkan jenis musik tradisional yang sudah dikembangkan dan menggunakan instrumen yang bercampur dari daerah Sumatera Barat, Jawa Barat, Bali, dll.

SVARA SAMSARA berdiri sekitar bulan Januari 2015 di Rumah Kahanan, sebuah tempat milik Alm.Innisisri (pemain drum legendaris yang pernah bermain di Sirkus Barock, Kantata Takwa, dan SWAMI). Pada saat itu mereka merupakan lima orang personil yang berasal dari kota yang berbeda dan masing - masing memiliki kemampuan musik secara otodidak. Para personil belajar bermusik dengan cara saling mengajar dan saling belajar.




Suatu keberuntungan bahwa SVARA SAMSARA bisa menjadi salah satu line up di RWMF 2017 ini. Kesempatan kali ini menjadi langkah awal bagi mereka untuk memperkenalkan musik tradisional Nusantara, karena pada bulan Desember mereka sudah memiliki rencana untuk tampil di Eropa.


Ditulis oleh : Aldiman Sinaga
Sumber berita dan foto : Endra Yatno

Kamis, 13 Juli 2017

Rainforest World Music Festival 2017 : Konser Mini menjelang Konser Sesungguhnya

Sumber : Google

Rainforest World Music Festival (RWMF) kembali digelar tahun ini pada 14-16 Juli 2017. RWMF adalah festival music tahunan yang diadakan selama tiga hari untuk merayakan keberagaman dari world music. RWMF diadakan di Kuching, Sarawak-Malaysia dengan kegiatan seminar/pelatihan musik, pameran kebudayaan, pameran kerajinan, lapak makanan, dan konser utama setiap harinya.

Pada Rabu (12/7) malam kemarin kegiatan ini telah dibuka dengan diadakannya sebuah konser mini bertempat di Culture Club. Walaupun hanya sebuah konser mini yang bertujuan sebagai preview show, tapi tanda - tanda kemeriahan RWMF sudah bisa dirasakan melalui acara di malam itu. Romengo, grup asal Hungaria memamerkan dansa ala Hungaria. Dengan diiringi empat pemain instrumen, sang vokalis bernyanyi sambil berdansa. Dan pertunjukan juga dimeriahkan oleh O Tahiti E, sebuah grup musik dan tari dari Tahiti. Terdapat sembilan orang yang menari diiringi empat pemain instrumen, meneriakkan yel - yel yang membangkitkan semangat penonton.

Tak hanya di dalam Culture Club, kemeriahan RWMF juga tampak melalui hiasan lampu berwarna - warni di setiap sudut kota. Hampir disemua tempat keramaian kami melihat hashtag #RWMF2017 seolah - olah terus mengingatkan kita bahwa tahun ini kemeriahan RWMF juga dalam rangka merayakan 20 tahun perjalanan keberhasilannya memberikan tontonan festival musik yang meriah.

Sumber : Endra Yatno

Sumber : Endra Yatno

Sumber : Endra Yatno



Teks oleh : Aldiman Sinaga
Pembawa kabar : Endra Yatno & Shando

Rabu, 21 Juni 2017

A HARD DAYS NIGHT VOL.1

Sebuah gig yang dikerjakan bareng oleh Reza Eje, Roro Silva, Coffie Stelsel dan owner nya, Iim dan Seven Studio nya, semua band yang main, semua buda buda yang datang, dan Tuhan Yang Maha Esa dengan restuNya.

Saya masih sering mendengar pertanyaan "acara ape nih?" dari seseorang ketika didepan mata nya sudah jelas ada satu set alat band, ada sebuah flyer bertuliskan nama - nama band, atau bahkan disaat didepan matanya ada sebuah band yang sedang tampil. Apa perlu ada jawaban untuk pertanyaan tersebut? Saya juga masih sering mendapatkan pertanyaan "acara sape nih?" dan yang bertanya itu hanya sekedar bertanya dan lalu pergi (karena memang sedari awal dia sudah tidak perduli sama sekali).

Bagi saya, sebuah acara yang menampilkan aksi kesenian dari bidang seni apapun tidak dapat dimiliki secara terbatas oleh segelintir orang saja apalagi hanya oleh panitia pelaksana acara tersebut. Sebuah acara yang mendatangkan lebih dari satu orang adalah milik bersama dari semua orang yang hadir bersama - sama dan beraktivitas didalam acara tersebut.

CHOCO PASTA, ROTA, LEMON DJIN, PRISONER OF GABY, dan seluruh orang yang berada di sekitar Coffie Stelsel dalam radius 200 meter, kalian telah memiliki dan mengalami sebuah malam yang keras. Keras memberi bunyi, keras memberi hiburan, keras memberi pengalaman, keras memberi kenangan.

Gig : A HARD DAYS NIGHT VOL.1
Tanggal : 18 Juni 2017
Tempat : Coffiestelsel Pontianak

CHOCO PASTA

CHOCO PASTA

ROTA

LEMON DJIN

LEMON DJIN

PRISONER OF GABY

PRISONER OF GABY

Video :