Rabu, 11 April 2018

Gig Bulan April 2018 : WEEKEND ROCKER SHOWCASE VOL.1


Akan selalu ada sisa bara ditengah sisa kayu yang terbakar

Lagi - lagi, muncul sebuah inisiatif baru untuk terus menjaga nafas kehidupan scene musik mandiri di kota Pontianak. Penurunan kuantitas yang terjadi selama dua tahun kebelakang tidak berarti penurunan kualitas semangat juang teman - teman di scene Pontianak. Terbukti masih banyak inisiatif - inisiatif dan berbagai macam variasi usaha yang dilakukan. Memang banyak yang tetap meratapi kondisi ini, pihak - pihak yang gagal move on dan terus memelihara romantisme masa lalu, gagal melihat keadaan dan berusaha melakukan penyesuaian. Tapi sebagian teman - teman lainnya tetap berpola pikir positif dan menghadapi situasi perubahan di dalam scene dengan baik. Akhirnya hal tersebut justru semakin menguatkan keteguhan niat dalam menjalani passion dan semakin menunjukkan siapa yang sebenarnya sungguh - sungguh perduli dan menghidupi scene Pontianak ini.

Weekend Rocker showcase ini adalah inisiatif dari beberapa teman yang merupakan anggota band - band yang sudah cukup lama bertahan di scene Pontianak bersama - sama dengan studio musik dan juga sebuah cafe yang terbilang baru di tepian kota Pontianak. Showcase ini menampilkan band - band yang yaaahh sudah sering tampil juga sih di Pontianak. Tapi tentu saja pemilihan band sudah berdasarkan pertimbangan - pertimbangan tertentu dari teman - teman penyelenggara acara. Yang pasti showcase ini patut kita apresiasi sebagaimana kita juga wajib dan perlu mengapresiasi gig/acara musik lainnya yang diselenggarakan secara mandiri/swadaya/DIY oleh teman - teman Pontianak lainnya. Kita juga tetap dan harus perlu pasang mata dan telinga terhadap semua perkembangan dari scene Pontianak, baik itu dari media independen nya, band - band nya (band baru/band lama/band kurang dikenal sekalipun), acara yang besar ataupun kecil, dll. Yakinlah, bahwa meratapi perubahan scene lokal kota Pontianak apalagi dengan gerakan memasang hashtag - hashtag yang memalukan dan gak penting itu semua adalah tindakan yang tolol dan sia - sia.

DAN YANG TERPENTING DARI SEMUA INI, BELI TIKET!!! BELI TIKET UNTUK SIAPAPUN YANG BUKAN BAGIAN DARI PANITIA, BAND YANG TAMPIL ATAU PENYELENGGARA ACARA. BELI LAH TIKET TERMASUK JUGA UNTUK KALIAN YANG PUNYA HUBUNGAN PERTEMANAN DEKAT DENGAN BAND YANG TAMPIL DAN PENYELENGGARA ACARA INI.

Minggu, 08 April 2018

OUT NOW ! - PTK1802 Kompilasi LINTAS KALIMANTAN (Terhimpit Dosa dan Duka, Bius, HANNNGS, Theo Nugraha, Golap Ni Tondi)



Format : CD-R
Cover dan lyric sheet dicetak di kertas kalender bekas dan kertas bekas.
Harga : Rp 5.000

OUT NOW! PTK1801 PEDARAXX - Live Demo 2017 Menyadik



Format : 3 inch CD-R
Cover dan lyric sheet dicetak di kertas kalender bekas
Harga : Rp 5.000

PEDARAXX adalah band hardcore punk dari Entikong, sebuah kecamatan yang terletak di perbatasan antara Kalimantan Barrat, Indonesia dengan Sarawak, Malaysia.  CD Demo ini direkam menggunakan perekam HP di sebuah studio rental latihan di Pontianak sekitar bulan Juli 2017.




Saling Sharing MOUTH ORGAN (berkenalan dengan alat musik mouth organ lintas budaya)



 Tiga musisi muda, tiga alat musik, tiga negara disatukan oleh musik.

Pada hari Kamis, 5 April 2018 di Canopy Center Pontianak ada tiga orang musisi yang duduk bersama memainkan dan memperkenalkan alat musik mouth organ. Mouth organ adalah alat musik yang terdiri dari batangan pipa bambu yang diikatkan bersama, kemudia menghasilkan bunyi melalui satu sumber tiupan. Mouth Organ diperkirakan asal asli nya dari daratan Cina Selatan, dan akhirnya tersebar ke Jepang, Asia Tenggara, dan tak ketinggalan Kalimantan Barat. Mouth Organ di beberapa tempat adalah alat musik yang sudah hampir punah, khususnya di Kalimantan Barat. Di Kalimantan Barat ini Yadi bersama grup musiknya Balaan Tumaan dan juga dengan jejaring sesama pemain mouth organ negara lain (di video ini bersama Eleanor dari Sabah dan Junichi dari Jepang) sedang berusaha untuk menelusuri akar dari alat musik mouth organ dan juga sekaligus melakukan upaya - upaya pelestarian.





Berkaitan dengan upaya – upaya dari ketiga musisi itulah diadakan acara yang berjudul SALING SHARING ini. Dimulai dari pemaparan Junichi Usui mengenai alat musik mouth organ asal Jepang yang bernama Sho. Sho di Jepang biasanya dimainkan dalam sebuah grup ansambel kesenian Jepang yang bernama Gagaku. Ciri permainan Sho lebih mengalir, tidak terlalu banyak progresi dalam memainkan Sho.
Kemudian pemaparan oleh Eleanor mengenai mouth organ yang berasal dari Sabah, Malaysia Timur yang bernama Sompoton. Di Sabah alat musik Sompoton ini cukup dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu Sompoton di Sabah sudah dikembangkan hingga ke bentuk yang lebih modern. Akan tetapi memang kepopulerannya masih tidak sebanding dengan kepopuleran dan pelestarian alat musik seperti Sape’. Eleanor menjalankan usaha pelestarian Sompoton dengan membuat “Sompoton Farm”, sebuah tempat untuk membudidayakan bahan utama Sompoton, melestarikan produksi Sompoton, dan belajar Sompoton.
Diskusi berjalan menarik dengan dihadiri oleh sekitar 12 pengunjung. Dimulai dari pertanyaan mendasar mengenai cara memainkan Sompoton ataupun Sho, bahan dasarnya, anatomi didalam kedua alat musik tersebut, masalah – masalah yang dihadapi di tempat masing – masing, dll. Salah satu yang masih terus diusahakan adalah menelusuri jejak persebaran mouth organ hingga sampai ke kapan dan dimana tempat asalnya di dunia ini. Karena persebaran mouth organ pada saat ini bisa dibilang sangat acak dan jalurnya melompat – lompat. Hal ini bisa juga dikarenakan ada beberapa tempat yang sudah tidak memiliki catatan mengenai keberadaan instrumen mouth organ di daerahnya. Hal tersebut pernah ditemukan dan dialami Yadi bersama Balaan Tumaan ketika pertama kali menemukan Kadedek (mouth organ dari Kalimantan Barat) di Melawi dan Kapuas Hulu. Di Kalimantan Barat sendiri saat ini sudah tidak banyak yang kenal Kadedek, tidak banyak juga yang bisa memproduksi alat tersebut, selain itu alat musik Kadedek juga kurang digemari karena cara memainkannya yang cukup kompleks.
Akan tetapi usaha pelestarian mouth organ ini tidak hanya berbicara pelestarian seni dan budaya semata. Seperti yang dikatakan oleh Eleanor bahwa ketika membicarakan instrumen mouth organ di Kalimantan dan Sompoton dari Sabah khususnya akan sarat dengan nuansa spiritual dan simbol – simbol kelestarian alam. Mempertahankan mouth organ di Kalimantan juga menyimbolkan bagaimana kita menghargai dan mempertahankan hutan Kalimantan. Karena di Kalimantan instrumen mouth organ seluruh bagian didalamnya menggunakan bahan – bahan alami dari hutan.
Kedepannya masih perlu banyak aksi dalam pergerakan memperkenalkan dan melestarikan instrumen mouth organ ini. Didalamnya termasuk terus berjejaring dengan penggiat ataupun pemain mouth organ dari berbagai negara. Selain itu perlu ada tindakan akulturasi bagi alat musik mouth organ. Salah satunya yang dilakukan oleh Yadi adalah dengan memasukkan materi pelajaran mouth organ di kampus seni Pontianak tempatnya mengajar. Dan tentunya dengan terus bergerak bersama band nya Balaan Tumaan.


Selasa, 20 Maret 2018

Rilis Baru!! FIGHT FOR FREE, JOE DA FLASH, HOLD IT DOWN, MIFTAH BRAVENDA, LOA

FIGHT FOR FREE - STAGEDIVE OR DIE
Fight For Free kembali!!!!! Setelah menunggu - nunggu album baru yang tak kunjung keluar, padahal proses recording nya sepertinya sudah rampung. Kini rasa rindu kita diobati oleh sebuah single berjudul Stagedive or Die. Mari dengarkan!





JOE DA FLASH - P.H.K
Joe Da Flash (JDF) adalah proyek solo hip hop/rap dari seseorang yang dikenal bernama Joe. JDF cukup aktif dalamm berkarya dan selalu membagikan karya yang dirilisnya melalui akun soundcloud ataupun channel youtube miliknya. Karyanya kali ini berkolaborasi dengan Levi Nawawi, seorang producer, beat maker, pemilik studio rekaman yang cukup dikenal di Pontianak. Menarik sekali kami membayangkan karya ini ditampilkan live oleh mereka berdua.



Hold it Down - Tight Your Snapback
Hold it Down kembali dengan album baru. Jeda tujuh tahun merupakan waktu yang cukup untuk salah satu kekuatan hardcore  Palembang ini untuk mengeluarkan karya baru. TIGHT YOUR SNAPBACK banyak dipengaruhi oleh musik - musik dari Agnostic Front, Sick of it All, Madball, H2O, Terror, dan bahkan unsur hip hop didalamnya. Berisi 10 track impresif dengan bantuan Satriyo Prakoso dari band Sumar, Densky9 dan Doyz dari grup hiphop Blakumuh. Artwork nya yang sangat New York 😀 adalah hasil garapan Ruiz Arregui (Spain). CD ini dicetak 500 kopi dan bisa didapatkan dengan harga Rp 50.000.




Miftah Bravenda
Miftah Bravenda adalah seorang musisi yang berasal dari Serang-Banten dan saat ini sedang berdomisili di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat untuk melaksanakan tugas kerja. Miftah Bravenda sebelumya banyak menghasilkan karya Ambient, electronic. Dan kini dia memperkenalkan sebuah project terbarunya Medieval Primordial dengan sebuah single Memories of The Lost Children. Medieval Primordial banyak memcampurkan unsur elektronik dan rock/heavy metal. Silahkan dengarkan





 

LOA (Law of Attraction) - Petrichor
LOA adalah sebuah band hardcore punk/post-metal/instrumental asal Depok. Band ini berisi talenta - talenta muda yang sungguh luar biasa karya nya. Semoga setelah single ini kita tidak terlalu lama lagi menunggu hadirnya rilisan Ep ataupun full album mereka.