Sabtu, 17 November 2018

WEIRDOS mengeluarkan lagu bernuansa Pop Galau

WEIRDOS adalah sebuah band rock dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Melalui kendaraan perang bernama Sonic Fuzz Records mereka mengeluarkan sebuah karya lagu berjudul Feel Like A Stranger. Sebuah lagu buah dari curhatan Afif(vokal/gitar) yang merasa asing ditengah kerumunan yang tidak dia kenal. Curhatan itu berhasil membuahkan sebuah lagu yang lebih kalem jika dibandingkan dua buah single Weirdos sebelumnya. Seakan - akan lelah berteriak marah, nuansa lagu tembang kenangan bisa kalian rasakan di lagu ini. “Lagu ini diciptakan untuk semua orang yang pernah mengalami situasi asing ini. Semua orang pasti pernah. Dan saya yakin, semua orang pasti kena sama lagu ini. Lagu ini diciptakan untuk menjadi sahabat mereka saat kesepian dan sendirian,” terang Afif.



Weirdos direncakan pada tahun 2014 oleh 2 orang mahasiswa telat wisuda, Afif dan Aswin, di sekre kampus bersama, saat sedang gitaran. Selang berapa waktu, band ini terbentuk setelah tambahan 2 personel, Azwar dan Ari. Maka lahirlah Weirdos di akhir 2014 dengan formasi Afif (Vokal/gitar), Aswin (Drum), Azwar (Bass), dan Ari (Gitar). Nama Weirdos sendiri datang dari mulut Aswin saat latihan kedua mereka, yang langsung disetujui oleh personel lainnya. Pada tahun 2016, band ini merilis 2 single yaitu Plug and Play dan Weirdos di Soundcloud. Namun di tahun ini, kedua lagu tersebut akan dirilis ulang dalam versi remastered. Saat ini Weirdos juga tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan album pertama mereka yang direncakan rampung tahun depan.  


Instagram/ Youtube/ Soundcloud: Weirdos_id
Lihat dan dengarkan Feel Like a Stranger di

Dua Video Baru dari Band Kalimantan Barat


Dennis Legstone adalah band Pop Punk dengan style New Found Glory, The Story  So Far asal dari Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Mereka sudah pernah merilis sebuah CD Demo pada event Record Store Day Pontianak 2016 dan juga sebuah CD Ep berjudul Start With Better Day pada tahun 2017. Single "Jadi Milik Ku" ini merupakan pemanasan mereka yang saat ini sedang dalam proses menuju album kedua.




DBHC (Deadly Beat) adalah sebuah band Hardcore Beatdown dari Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Band ini merupakan band yang sudah sangat lama eksis dan aktif di scene hardcore punk Singkawang. Mereka sudah merilis sebuah CD Ep pada tahun 2017/2016 dan beberapa waktu belakangan cukup produktif merilis video - video di channel YouTube mereka.

Kamis, 08 November 2018

FVRQAN Menyuarakan Isu Konflik Ras melalui SUNYATA


FVRQAN adalah seorang MC asal Kalimantan Barat dimana sebelumnya telah meluncurkan album "ANTIPATI" sebagai buah kolaborasi antara Hip-Hop dan Penyair,dan kali ini ia telah mengeluarkan single baru berjudul "SUNYATA" yang menceritakan pembantaian etnis tionghoa yang ada di kalimantan saat rezim Soeharto. Kondisi kehidupan antar etnis yang diadu domba dan diatur untuk saling membunuh oleh kekuasaan negara melalui aparat sebagai moncong penindasannya. Situasi saling membunuh, saling membenci yang sengaja diciptakan demi memecah belah rakyat dan melanggengkan kekuasaan penindasan. Miris memang! Identitas alami manusia (suku, ras) bisa dipolitisasi untuk kepentingan tertentu. Bukankah hal seperti ini juga familiar bagi kita sekarang?


FVRQAN adalah seorang MC asal Kalimantan Barat dan kini tengah berdomisili di Yogyakarta. Karya – karyanya mencerminkan amarah, kepedihan yang terjadi dari segala ketidakadilan yang terjadi di bumi Kalimantan. Karya – karyanya bisa dinikmati melalui akun media sosial seperti YouTube dan Soundcloud.



Lirik :
Mengingat kembali suara tembakan di ujung desa
Terekam dalam retina
Tentang seorang ibu yang bergenang darah di perbatasan malaysia
Yang jatuh ke tanah setelah bunyi senapan menggema di udara
Lalu seorang paman berjalan perlahan merangkak dalam genangan darah
Karena dianggap bagian dari si merah
Sehingga lumuran darah adalah syarat untuk melewati pos-pos tentara
Yang setengah redup terekam dalam retina
Tanyakan mengapa!
Setiap etnis Tionghoa yang ada
Seolah hal biasa bagi genosida
Tanyakan mengapa!
Dimana singkawang dan pontianak adalah jalur pelarian yang tersisa
Bagi tiap nyawa yang mencari kebebasan untuk menghirup udara
Tanyakan mengapa!
Dimana malam terakhir bagi sisa kehidupan mereka
Adalah lembar yang sengaja dihapus dalam sejarah
Sehingga cahaya merah di malam-malam terakhir kehidupan
Menjelma sebagai doa-doa yang mengkutuk zaman
Menjelma sebagai karavan
Dari tiap pembantaian yang meludahi harapan
Kawan!
Tiap sayatan yang ada di dada para korban
Adalah bagian dari propaganda angkatan darat dalam merancang peradaban
Dengan balutan konflik antar-etnis yang ada di Kalimantan
Sehingga setiap tulisan ini adalah kontra kebisuan
Bagi hening dan nada-nada bimbang yang menjelma sebagai malam pembantaian
Sehingga setiap tubuh yang memenuhi lobang pembantaian
Hanya menjadi pelapis statistik yang meludahi zaman
Kuingat kembali seorang ayah yang disayat dari kerongkongan hingga ke selangkangan
Yang membuat kaki,badan dan tangan
Terpisah disaksikan tengkawang yang diam dan tak beralasan
Sehingga cahaya merah di malam-malam terakhir kehidupan
Menjelma sebagai doa-doa yang mengkutuk zaman
Menjelma sebagai karavan
Dari tiap pembantaian
Yang meludahi harapan
Yang meludahi harapan,dari tiap pembantaian!
(Sebuah catatan kaki dari badan dan kepala yang terpisah pasca '65)

FVRQAN – Sunyata :
Diciptakan oleh : Fvrqan
Direkam oleh : Fvrqan

Hubungi FVRQAN di :
YouTube : Furqan

Senin, 05 November 2018

ACARA MUSIK PONTIANAK DI BULAN NOVEMBER !!







Umar Haen Rilis Album Pertama Berjudul “Gumam Sepertiga Malam”


Umar Haen akan merilis album pada hari Jumat, tanggal 9 November 2018 besok. Album pertamanya ini diberi tajuk Gumam Sepertiga Malam dan dirilis oleh Akik Records, label rekaman independen hasil kerjasamanya dengan Buku Akik.

Album ini berisi 9 lagu yang diciptakan sendiri oleh Umar Haen. Gumam Sepertiga Malam dipilih sebagai judul untuk memberi bingkai konteks waktu dimana Umar Haen menumpahkan segala kegelisahan masa mudanya soal buku, pesta, dan cinta. Ia bernyanyi soal tongkrongan dan obrolan beralkohol, asmara yang penuh suka-luka, masa depan yang tak pasti, pendidikan yang tak selalu searah dengan usaha menjadi manusia, juga kecintaannya terhadap kampung halaman sebagai wujud penolakannya terhadap glorifikasi segala yang urban.

Proses pengerjaan album Gumam Sepertiga Malam telah dimulai sejak awal 2018 lalu. Album ini direkam di Rumah Baik Gowok, dengan Dhandy Satria berperan di bagian mixing dan mastering. Untuk menyempurnakan nuansa di beberapa lagu, Umar Haen mengajak Stefani yang memainkan cello. Pada ilustrasi, Umar Haen menyerahkan interpretasi visual kepada Kanosena Hartadi, dengan garapan layout packaging oleh Bambang Nurdiansyah. Keduanya merupakan seniman visual yang saat ini sedang naik daun.


Demi menyempurnakan proses berkaryanya ini, album ini akan dirilis dalam sebuah konser rilis yang dirancang dengan nuansa intim. Umar Haen akan mengundang teman-teman dan pendengarnya untuk merayakan pencapaiannya ini di Pusat Studi Lingkungan Sanata Dharma, di kawasan Gejayan, Yogyakarta. Harapannya, konser ini bisa jadi momen hangat dan istimewa dalam perjalanan karier Umar Haen ke depan. “Di konser rilis album nanti saya ingin memperkenalkan cara baru dalam mengapresiasi pertunjukan, yaitu dengan cara membayar dengan nominal bebas di pintu keluar. Jadi penonton tidak akan merugi, tak seperti membeli kucing dalam karung,” tambahnya. Album ini dirilis dalam bentuk CD dengan lisensi Creative Commons. Gumam Sepertiga Malam akan didistribusikan ke beberapa toko musik independen yang tersebar di Indonesia.





UMAR HAEN


Youtube : Umar Haen
Spotify : Umar Haen
Facebook Page: @umarhaenmusic
Instagram: @umar_haen
Contact:
Manajer - Titah AW (08113687993)