Minggu, 16 Juli 2017

Rainforest World Music Festival 2017 : SVARA SAMSARA dan suara musik tradisional Indonesia

Suasana hari pertama Rainforest World Music Festival 2017 (RWMF 2017) sudah menjanjikan kemeriahan yang luar biasa untukk hari - hari berikutnya. Terdapat setidaknya sepuluh penampil di tiga panggung berbeda (Rainforest Theatre Stage, Rainforest Jungle Stage, Rainforest Tree Stage).




Kami mengamati situasi di Rainforest Tree Stage dan terpukau dengan satu - satunya penampil yang berasal dari Indonesia, SVARA SAMSARA. Grup ini berasal dari Depok, Jawa Barat dan jangan pernah membayangkan bahwa grup ini akan menampilkan musik khas Sunda ataupun pertunjukan wayang golek.  Mereka memainkan jenis musik tradisional yang sudah dikembangkan dan menggunakan instrumen yang bercampur dari daerah Sumatera Barat, Jawa Barat, Bali, dll.

SVARA SAMSARA berdiri sekitar bulan Januari 2015 di Rumah Kahanan, sebuah tempat milik Alm.Innisisri (pemain drum legendaris yang pernah bermain di Sirkus Barock, Kantata Takwa, dan SWAMI). Pada saat itu mereka merupakan lima orang personil yang berasal dari kota yang berbeda dan masing - masing memiliki kemampuan musik secara otodidak. Para personil belajar bermusik dengan cara saling mengajar dan saling belajar.




Suatu keberuntungan bahwa SVARA SAMSARA bisa menjadi salah satu line up di RWMF 2017 ini. Kesempatan kali ini menjadi langkah awal bagi mereka untuk memperkenalkan musik tradisional Nusantara, karena pada bulan Desember mereka sudah memiliki rencana untuk tampil di Eropa.


Ditulis oleh : Aldiman Sinaga
Sumber berita dan foto : Endra Yatno

Kamis, 13 Juli 2017

Rainforest World Music Festival 2017 : Konser Mini menjelang Konser Sesungguhnya

Sumber : Google

Rainforest World Music Festival (RWMF) kembali digelar tahun ini pada 14-16 Juli 2017. RWMF adalah festival music tahunan yang diadakan selama tiga hari untuk merayakan keberagaman dari world music. RWMF diadakan di Kuching, Sarawak-Malaysia dengan kegiatan seminar/pelatihan musik, pameran kebudayaan, pameran kerajinan, lapak makanan, dan konser utama setiap harinya.

Pada Rabu (12/7) malam kemarin kegiatan ini telah dibuka dengan diadakannya sebuah konser mini bertempat di Culture Club. Walaupun hanya sebuah konser mini yang bertujuan sebagai preview show, tapi tanda - tanda kemeriahan RWMF sudah bisa dirasakan melalui acara di malam itu. Romengo, grup asal Hungaria memamerkan dansa ala Hungaria. Dengan diiringi empat pemain instrumen, sang vokalis bernyanyi sambil berdansa. Dan pertunjukan juga dimeriahkan oleh O Tahiti E, sebuah grup musik dan tari dari Tahiti. Terdapat sembilan orang yang menari diiringi empat pemain instrumen, meneriakkan yel - yel yang membangkitkan semangat penonton.

Tak hanya di dalam Culture Club, kemeriahan RWMF juga tampak melalui hiasan lampu berwarna - warni di setiap sudut kota. Hampir disemua tempat keramaian kami melihat hashtag #RWMF2017 seolah - olah terus mengingatkan kita bahwa tahun ini kemeriahan RWMF juga dalam rangka merayakan 20 tahun perjalanan keberhasilannya memberikan tontonan festival musik yang meriah.

Sumber : Endra Yatno

Sumber : Endra Yatno

Sumber : Endra Yatno



Teks oleh : Aldiman Sinaga
Pembawa kabar : Endra Yatno & Shando

Rabu, 21 Juni 2017

A HARD DAYS NIGHT VOL.1

Sebuah gig yang dikerjakan bareng oleh Reza Eje, Roro Silva, Coffie Stelsel dan owner nya, Iim dan Seven Studio nya, semua band yang main, semua buda buda yang datang, dan Tuhan Yang Maha Esa dengan restuNya.

Saya masih sering mendengar pertanyaan "acara ape nih?" dari seseorang ketika didepan mata nya sudah jelas ada satu set alat band, ada sebuah flyer bertuliskan nama - nama band, atau bahkan disaat didepan matanya ada sebuah band yang sedang tampil. Apa perlu ada jawaban untuk pertanyaan tersebut? Saya juga masih sering mendapatkan pertanyaan "acara sape nih?" dan yang bertanya itu hanya sekedar bertanya dan lalu pergi (karena memang sedari awal dia sudah tidak perduli sama sekali).

Bagi saya, sebuah acara yang menampilkan aksi kesenian dari bidang seni apapun tidak dapat dimiliki secara terbatas oleh segelintir orang saja apalagi hanya oleh panitia pelaksana acara tersebut. Sebuah acara yang mendatangkan lebih dari satu orang adalah milik bersama dari semua orang yang hadir bersama - sama dan beraktivitas didalam acara tersebut.

CHOCO PASTA, ROTA, LEMON DJIN, PRISONER OF GABY, dan seluruh orang yang berada di sekitar Coffie Stelsel dalam radius 200 meter, kalian telah memiliki dan mengalami sebuah malam yang keras. Keras memberi bunyi, keras memberi hiburan, keras memberi pengalaman, keras memberi kenangan.

Gig : A HARD DAYS NIGHT VOL.1
Tanggal : 18 Juni 2017
Tempat : Coffiestelsel Pontianak

CHOCO PASTA

CHOCO PASTA

ROTA

LEMON DJIN

LEMON DJIN

PRISONER OF GABY

PRISONER OF GABY

Video :


Selasa, 20 Juni 2017

NGABUBUNYIAN #6

Untuk kami secara personal, gig ini hampir anti klimaks, hahahahahaha. Selain tidak ada tema khusus yang ditawarkan (ya memang gak musti ada tema khusus sih, tapi kami masih susah move on dari ngabubunyian sebelumya yang keren banget), branding rokok bang surya (ini juga gak masalah, sekali lagi ini tulisan personal :D ), dan juga salah satu band yang kami harapkan di acara ini batal main karena alasan yang malesin. Tapi selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa, selalu ada berkah dibalik setiap kesabaran.

Kami tetap bertahan di area Parklife Creative Space dengan rasa penasaran terhadap Rifqi Luthfian dan Lawangkain Ansambel. Selain itu seperti biasa Parklife Creative Space selalu hidup dengan berbagai aktivitas seru, ada yang main PlayStation yang disediakan rokok bang surya, ada yang lagi asik goreng lumpia buat berbuka puasa, juga tidak ketinggalan misi utama dari acara ini lapak barang second yang hasilnya akan disumbangkan kepada yang membutuhkan.

Acara dibuka oleh penampilan SECANGKIR KOPI, sebuah band yang lumayan banyak dapat panggung di Pontianak. Selain karena performa manggung nya yang rapi, mereka juga selalu tampil dengan mengcover lagu - lagu Top 40 yang jelas mengundang "sing along" tipis dari penonton. Penampil kedua adalah Rifqi Luthfian, seorang solois yang sepertinya tidak terlalu mendapat sorotan. Rifqi Luthfian tampil sangat baik sore itu, lagu - lagu miliknya yang dibawa diatas panggung banyak menyiratkan gundah dan juga resah. Kalau selama ini line up Pensi SMA ataupun Kampus Pontianak cuma berputar - putar di Coffternoon, Manjakani, Reza&Miranda, serta LAS!, sudah selayaknya Rifqi Luthfian juga mendapatkan tempat.

Ada satu band yang batal tampil di acara sore itu, BANDIT. Sebuah band hardcore yang diisi muka - muka lama yang juga sudah sempat cukup lama absesn dari peredaran musik underground Pontianak. Salah satu lagu mereka yang berjudul ATAS NAMA juga ikut mengisi album kompilasi REPELITA VOL.1 yang dirilis oleh PTK Distribution. Band ini juga diisi oleh personil - personil yang sangat baik kualitas permainannya. Sayang sekali BANDIT harus batal tampil karena sebuah masalah teknis yang sederhana.

Penampil penutup dan juga bisa dibilang pamungkas sore itu (bahkan sampai selepas maghrib) adalah LAWANGKAIN ANSAMBEL. Lagi - lagi ini sebuah kejutan yang datang dari IKAN MAS, sebuah komunitas musik mahasiswa/i FKIP Jurusan Seni Universitas Tanjungpura. Band ini tampil dengan berbagai instrumen yang tidak pernah terlihat di band - band lain di komunitas musik Pontianak, ada contra bass, tempayan yang jadi gendang(???), sebuah djimbe berukuran kecil, dan juga klarinet. Tampaknya ilmu seni musik yang mereka dapatkan lewat jalur formal tidak hanya berhenti di lembaran tugas kuliah ataupun ujian praktik semata, tapi ilmu tersebut justru jadi pemantik kreativitas yang mereka tampilkan untuk meramaikan komunitas musik Pontianak. Saya sangat yakin, IKAN MAS sudah selayaknya mengeluarkan sebuah album kompilasi dari band/musisi/seniman yang ada didalam komunitas mereka. Ayo jadikan!!!!!!!! Melalui semua alat musik tadi Lawangkain Ansambel menghadirkan musik yang bernuansa retro, cocok untuk soundtrack ketika kalian sedang dinner dengan pasangan.

Entah masih ada atau tidak NGABUBUNYIAN di weekend terakhir bulan puasa tahun 2017 ini. Yang jelas semua pasti setuju kalau acara seperti ini wajib hadir lagi bulan puasa tahun depan!



























Senin, 12 Juni 2017

FOOD NOT BOMBS PUNK PONTIANAK

Mendapat sebuah kabar lainnya yang sangat positif dari teman - teman komunitas Punk Pontianak. Beberapa dari mereka mempunyai inisiatif untuk melakukan kegiatan berbagi makanan atau dikenal juga dengan istilah Food Not Bombs. Food Not Bombs sendiri adalah sebuah kegiatan politis yang memiliki banyak makna yang jauh lebih dalam, tapi tak perlu dipusingkan mengenai istilah karena intinya teman - teman ini mau berinisiatif sebuah kegiatan yang bermanfaat bagi sesama.

Info mengenai kegiatan ini kami dapatkan dari salah satu partisipan mereka yang bernama Yoga Journey. Dan berdasarkan foto dan video yang kami dapatkan, kegiatan ini diadakan atas nama komunitas BOM RANJAU. Kegiatan dilaksanakan pada Minggu, 11 Juni 2017 di sepanjang jalan Imam Bonjol hingga ke jalan Gajah Mada Pontianak. 

Semoga kegiatan seperti ini adalah trigger untuk aksi yang lebih banyak dan lebih konsisten lagi dari teman - teman punk Pontianak. Beberapa waktu belakangan memang street punk tiba - tiba menjadi sebuah pemandangan yang sangat umum di jalanan Pontianak. Ramainya gig musik turut menjadi alasan kemunculan remaja - remaja ini. Setelah itu sejalan dengan menurunnya intensitas penyelenggaraan gig musik di Pontianak, kehadiran mereka pun turut berkurang. Semoga melalui kegiatan ini dan melalui teman - teman pelaksana kegiatan ini bisa turut menularkan inspirasi berbagai kegiatan kepada teman - temannya yang lain.